The Low Hanging Fruit is Tasty

By Jay Cross

  • Menurut Tom Gilbert dan Peter Dean, pelatihan hanya berpengaruh sekitar 10,5% dari total perubahan yang diinginkan dalam pekerjaan. Kejelasan tujuan, kondisi pekerjaan dan faktor lain merupakan hal yang sangat penting.
  • Institute for Research on Learning menemukan bahwa, pelatihan formal hanya menyumbang 20% pengetahuan karyawan. Sebagian besar karyawan belajar mengenai pekerjaan dari mengobservasi orang lain, bertanya, trial and error, dan aktivitas mandiri lainnya.
  • Berdasarkan penelitian Robert Brinkerhoff dan Stephen Gill, karyawan yang hadir pada pelatihan formal tidak pernah mengaplikasikan sekitar 80-90% apa yang telah mereka pelajari di pekerjaan mereka. Mereka cenderung lupa apa yang telah mereka pelajari dalam beberapa hari.
  • Beberapa Corporate Learning Center yang pernah kami temui menyampaikan bahwa jumlah training yang direncanakan dan akhirnya terlaksana hanya 20%. Selebihnya terjadi perubahan di perjalanan tahun. Entah itu perubahan prioritas, budget ataupun digantikan training lain secara tiba-tiba

Hal di atas merupakan fakta di lapangan yang sering ditemukan di dunia pelatihan di perusahaan. Jika kita tarik benang merah dan simpulkan, maka :

  1. Hanya 20% pelatihan yang terlaksana dari rencana.
  2. Dari pelatihan yang terlaksana, hanya 20% yang berpengaruh terhadap pengetahuan karyawan
  3. Hanya 10% perubahan yang terjadi di tempat kerja yang diakibatkan pelatihan

Jika ini benar terjadi, maka berapa dampak pelatihan yang dilaksanakan perusahaan terhadap bisnis?

20% terlaksana X 20% kompetensi meningkat X 10% digunakan = 0.04% pengaruh

Benarkah hanya sekecil ini? Hanya anda sendiri yang bisa menjawabnya. Jika hal ini benar terjadi, apa penyebabnya? Menurut Jay Cross karena kita terlalu fokus pada Low Hanging Fruit. Kita hanya fokus pada apa yang mudah dilaksanakan. Membuat slide, hand-out, memberikan presentasi dan memberikan kuestioner evaluasi. Kita tidak melakukan assessment dan pengumpulan data secara lengkap, tidak menganalisa secara detil dan tidak merancang program pelatihan secara komprehensif dan berkesinambungan. Kebanyakan KPI Learning Center masih fokus pada jumlah pelatihan dan jumlah peserta pelatihan.

Lalu bagaimana memperbaikinya? Untuk memperbaikinya, tentu harus memperbaiki prosesnya. Perbaiki proses Training Need Analysis, perbaiki proses Training Design/Instructional Design, perbaiki proses pembuatan material pelatihan, perbaiki proses pelaksanaan pelatihan, hingga perbaiki proses evaluasi pelatihan. Lakukan prosesnya secara lengkap dan berkesinambungan. Tidak mungkin merancang pelatihan yang bagus tanpa melakukan Training Need Analysis yang baik.

Freshminds Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *