Ragam Model Evaluasi Training

Setelah kita memahami pentingnya evaluasi pelatihan, mari kita bahas berbagai model / framework yang dapat digunakan untuk mengevaluasi sebuah pelatihan.

Setiap evaluasi pelatihan, dengan model apapun yang digunakan, harus mengandung 4 unsur berikut: Object, Measurement, Standard, dan Action.  Setiap evaluasi pasti memiliki objek yang diukur, memerlukan Measurement  atau cara dan instrumen pengukurannya, memiliki Standard atau acuan yang digunakan sebagai pembanding untuk menyimpulkan sebuah hasil pengukuran, apakah sudah baik atau belum, sudah berhasil atau tidak. Standard ini dapat diperoleh dari teori atau best practice, atau dibuat sendiri oleh organisasi/perusahaan.Proses membandingkan hasil pengukuran terhadap standar melahirkan rekomendasi tindak lanjut atau Action untuk perbaikan pelatihan di kemudian hari.

Model yang paling populer digunakan untuk evaluasi pelatihan adalah Model Kirkpartrik Four Level Evaluation. Sejak dicetuskan pertama kali oleh Donald Kirpatrick di tahun 1959 sampai saat ini,  model ini selalu menjadi pilihan pertama perusahaan untuk mengevaluasi program pelatihannya. Model ini akan kita bahas secara terpisah.

Model lainnya adalah Model CIPP yaitu Context, Input, Process, dan Product, yang dikembangkan oleh Stufflebeam di akhir 1960an. Pada evaluasi context, evaluator mengidentifikasi kebutuhan yang ingin diatasi melalui pelatihan dan apakah kebutuhan tersebut di dalam program pelatihan. Pada evaluasi input, evaluator mengukur apakah telah disiapkan sumberdaya yang sesuai dengan kebutuhan pelatihan. Evaluasi process dimaksudkan untuk melihat apakah pelaksanaan program pelatihan sudah sesuai dengan strategi yang telah direncanakan. Terakhir, evaluasi product mengukur dan menilai pencapaian program pelatihan. Pada evaluasi ini, evaluator melihat tingkat ketercapaian tujuan pelatihan. Model CIPP adalah model unik yang dapat digunakan oleh seorang Evaluator pada setiap tahap pelatihan : sebelum (context dan input evaluation), saat pelatihan berlangsung (input dan process evaluation) dan saat selesai pelatihan (product evaluation).

Pada tahun 1970, di dalam buku “Evaluation of Management Training”, Warr, Bird, dan Rackham memperkenalkan metode evaluasi pelatihan yang disebut CIRO (context, input, reaction and output). Mirip seperti CIPP, CIRO berfokus pada pengukuran sebelum dan sesudah pelatihan. Pada tahap evaluasi context, fokus diarahkan pada bagaimana kebutuhan sebuah pelatihan. Di dalamnya evaluator melakukan pengukuran terhadap gap kompetensi dan menentukan tujuan pelatihan. Pada tahap input dilakukan analisis terhadap desain, manajemen, dan metode penyampaian pelatihan. Evaluasi input ini jugam melibatkan evaluasi terhadap kecukupan sumber daya demi tercapainya tujuan pelatihan. Evaluasi berikutnya adalah reaksi peserta, pengajar, dan orang-orang yang terlibat di dalam penyelenggaraan pelatihan. Pada tahap outcome, evaluasi dilakukan untuk melihat ketercapaian tujuan pelatihan.

Model CIPP dan CIRO, keduanya mengedapankan evaluasi pelatihan pada setiap tahap sejak sebelum pelatihan dimulai sampai dengan sesudah pelatihan selesai. Pada artikel selanjutnya, kita akan membahas model lain yang memiliki pendekatan berbeda dibandingkan kedua model ini.

Freshminds Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *