eLearning Trends and Predictions For 2018

What Are The eLearning Trends and Predictions For 2018?

Pada masa ini kita mulai melalu fase yang menuntut adanya perubahan secara signifikan dan cepat dari “learning transformation”. Hal ini membawa kita ke dalam pendekatan yang baru dan mendalam untuk menciptakan pembelajaran yang berdampak dalam menaikkan perolehan kinerja yang diharapkan. Berikut trends e-learning yang akan terjadi pada 2018:

Mobile Learning

Penggunaan dari Mobile Learning yang telah diadopsi dalam training perusahaan mengalami peningkatan yang signifikan pada tahun 2017 dan tren ini akan terus berlanjut. Dengan sudah banyaknya “authoring tools” yang responsive, serta fleksibelitas dari BYOD (Bring Your Own Device) dalam kebijakan training akan membawa penggunaan Mobile Learning lebih efektif pada tahun 2018. Pada tahun 2018, penggunaan Mobile Learning ini akan lebih meluas lagi untuk kebutuhan pelatihan perusahaan serta untuk mendukung pembelajaran informal dan digitalisasi Instructor Led Training (ILT).

Dapat dilihat juga penggunaan format yang digunakan oleh “learners” dalam kehidupan sehari-harinya (yaitu Apps dan Video) untuk pendidikan formal maupun informal ini, dapat memberi penguatan yang lebih signifikan melalui penilaian dan latihan-latihan yang mengarah pada perolehan serta penguasaan keterampilan.

Microlearning

Penggunaan microlearning dimulai sebagai “nugget” untuk mendukung tradisional e-learning courses beberapa tahun yang lalu. Pada tahun 2017 dapat dilihat percepatan penerapannya di sebagian besar program pelatihan perusahaan. Pada 2018, momentum ini akan terus tumbuh dengan semakin banyaknya program pelatihan yang menggunakan microlearning untuk pelatihan formal dan sebagai pendukung kinerja (alat bantu belajar atau pekerjaan).

Performance Support Tools (PSTs)

Tawarkan/gunakan Performance Support Tools pada smartphone sehingga alat bantu belajar ini dapat berada dalam “work-flow” learner’s dan tersedia saat mereka membutuhkannya, hal ini akan terlihat peningkatannya pada 2018. Dengan memanfaatkan popularitas microlearning, pada 2018 ini PTSs akan digunakan secara ekstensif untuk mendukung pelatihan formal yang memungkinkan orgarnisasi untuk melihat penerapannya dalam pembelajaran. Hal ini juga akan terus mendukung pelatihan ILT.

Gamification

Hingga 5 tahun yang lalu, gamifikasi dalam pelatihan perusahaan dipandang dengan skeptis. Namun pada kenyataannya dalam masa ini, gamifikasi (penuh atau hanya sebagian) semakin menjadi bagian dari strategi pembelajaran organisasi. Terlihat peningkatan gamifikasi untuk pembelajaran yang dilanjutkan dan diperluas ke dalam program-progam pembelajaran konvensional yang sebelumnya tidak menggunakan (misalnya pelatihan berbasis aplikasi dan penerapan simulasi).

Social Learning

Meskipun belajar dari orang lain atau dengan orang lain bersifat intrinsik terhadap manusia, kita telah melihat pengakuan untuk menggunakan “social learning” sebagai bagian penting dari pelatihan perusahaan dalam beberapa tahun terakhir. Dengan pilihan untuk platform atau portal pembelajaran, kita akan melihat peningkatan penggunaan “social learning” untuk mendorong semangat pembelajaran kolaboratif dalam organisasi.

Mobile Apps Or Apps For Learning

Total jumlah unduhan aplikasi di seluruh dunia pada tahun 2017 mencapai angka yang mengejutkan, yaitu sebesar 197 miliar. Dilihat dari fakta tersebut, maka kita telah menggunakan aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, dan ini menjadi hal yang logis jika kita menggunakan aplikasi untuk pembelajaran. Peningkatan penggunaan Mobile Apps untuk pembelajaran akan menjadi bagian penting dari pelatihan perusahaan pada tahun 2018. Mereka juga akan memanfaatkan kegunaan microlearning (termasuk learning paths) dan juga gamification. Fleksibilitas dari personalisasi yang terhubung dengan peserta didik melalui notifikasi (on updates) akan menjadi nilai tambah dalam hal ini.

Video-Based Learning (Videos And Interactive Videos)

Jika Anda melakukan survey kepada peserta didik, hal ini (Video Based Learning) pasti akan menjadi 3 format pembelajaran yang terbaik bagi mereka. Satu-satunya tantangan dengan pembelajaran berbasis video klasik adalah kepasifan peserta didik dan kebanyakan kita melupakan apa yang telah kita pelajari setelah 60 detik. Pada tahun 2018, terlihat akan lebih banyak investasi dalam video yang menawarkan interaksi (serupa dengan pembelajaran tradisional), pemeriksaan pengetahuan sementara, percabangan berdasarkan pilihan yang dibuat peserta didik serta akhir dari penilaian program.

Selanjutnya, Anda akan melihat integrasi video dari YouTube untuk menciptakan jalur pembelajaran yang spesifik (mirip dengan topik dalam kursus online lainnya) dan melacak kemajuan serta kinerja peserta didik.

Next Gen-LMS/LCMS

Tren dan Prediksi e-learning pada tahun 2017 menyoroti bahwa, bagaimana platform LMS/LCMS perlu disesuaikan dengan cara yang dipelajari peserta didik. Tren ini akan terus berlanjut pada tahun 2018. Pergeseran dari platform LMS perusahaan yang “mendorong (push)” program pelatihan ke jalur pembelajaran yang dipersonalisasi sehingga peserta didik dapat “menarik (pull)”. Fleksibilitas untuk belajar offline dan “sinkronisasi-balik” dengan LMS begitu Anda online menjadi fitur yang penting dan lebih diinginkan oleh peserta didik.

Rapid And Completely Responsive eLearning Tools

Tahun depan (2018) akan terlihat peningkatan lebih lanjut dalam kemudahan pengembangan (desain yang cepat dan responsif) untuk megikuti kebutuhan microlearning serta fleksibilitas dalam menggabungkan tren strategi pembelajaran dan format-format yang berdampak besar bagi pembelajaran.

Informal Learning

Organisasi menyadari bahwa budget hanya digunakan untuk pelatihan formal dan terstruktur tidaklah cukup. Menyediakan peserta didik dengan lebih banyak saluran untuk dipelajari, memiliki akses terhadap informasi tepat yang mereka butuhkan dan mendorong pembelajaran kolaboratif adalah beberapa aspek utama yang akan melihat peningkatan fokus pada tahun 2018. Penggunaan Performance Support Tools (PSTs) perlu menjadi bagian integral dari pelatihan untuk memberi bantuan pembelajaran kepada peserta didik dan dapat diramalkan bahwa tren ini akan mendapat momentumnya pada tahun 2018.

Sumber: https://elearningindustry.com/elearning-trends-and-predictions-for-2018

Contributor: Chandra Munandar

5 THINGS THE MODERN WORKER LOOKS FOR IN TALENT DEVELOPMENT

Gelombang baru karyawan membentuk kembali angkatan kerja saat ini. Generasi Z (Gen Z) memulai karir mereka, dan generasai milenial sekarang membentuk lebih dari sepertiga pekerja di Amerika Serikat – mayoritas yang diperkirakan akan meningkat menjadi 75 persen pada tahun 2025. Hal ini berarti, bahwa prioritas dan harapan di tempat kerja bergeser seiring generasi yang lebih tua menjadi minoritas. Pada bidang pembelajaran dan pengembangan, generasi yang lebih muda memiliki pandangan dan prioritas yang berbeda daripada mereka yang telah datang sebelum mereka (generasi milenial). Dengan internet, Gen Z dan milenial telah beradaptasi/beradaptasi dengan kemampuan untuk belajar secara mudah, jadi tidak mengherankan jika pembelajaran on-demand juga menjadi prioritas bagi mereka di tempat kerja.

Sayangnya, banyak dari pekerja modern tidak merasa organisasinya mencapai standar – 42 persen dari generasi milenial mengatakan bahwa mereka cenderung meninggalkan perusahaan dikarenakan mereka tidak belajar cukup cepat. Inilah lima hal penting yang dicari oleh pekerja modern ketika menyangkut peluang pengembangan bakat – serta tips untuk menarik dan mempertahankan bakat yang diinginkan.

  1. Peluang Pengembangan Kepemimpinan
    Pengembangan kepemimpinan sangat penting bagi pekerja generasi milenial maupun generasi Z. Gallup poll (Penilaian publik) baru-baru ini menemukan bahwa 87 persen generasi milenial mengatakan pengembangan lapangan merupakan kunci. Dan 36 persen dari populasi milenial dan Gen Z memberi peluang pada perkembangan sebagai aspek terpenting dalam pekerjaan profesional pertama, menurut sebuah survei dari Adecco.Karena para pekerja ini sangat ingin mengambil peran kepemimpinan, organisasi perlu memberikan kesempatan untuk gerakan karir bersama dengan jalur pertumbuhan yang ditetapkan yang dapat diikuti oleh karyawan. Sistem manajemen kinerja yang memungkinkan karyawan berpartisipasi dalam program pembangunan, bekerja dengan manajer untuk menetapkan dan memantau sasaran, dan mencatat keterampilan yang didapat akan sangat penting untuk mempertahankan bakat di masa depan.

  2. Pembelajaran yang Dipersonalisasi
    Generasi milenial tidak terlalu setia kepada atasan mereka. Pada akhir 2020, dua dari setiap tiga generasi milenial diperkirakan akan beralih ke pekerjaan baru, 2016 Millenial Survey menurut Deloitte – namun ada sesuatu yang dapat dilakukan oleh atasan untuk mencegah hal tersebut. Generasi Milenial menempatkan nilai fleksibilitas yang tinggi, dan ingin memiliki kendali atas pengalaman belajar dan jalur karir mereka sendiri. Membiarkan karyawan menetapkan tujuan pembelajaran individual dan memberi mereka alat untuk mengejar kemajuan karir internal memperkuat perasaan berharga dan hormat, dan dapat membantu menjembatani kesenjangan loyalitas. Dan teknologi dapat membantu: Sistem manajemen pembelajaran memungkinkan pekerja untuk dengan mudah melacak kemajuan dan pencapaian. 

  3. Mentoring Yang Sedang Berlangsung
    Mentoring di di tempat kerja merupakan prioritas besar bagi pekerja modern-79 persen generasi milenial menganggap hal ini penting untuk kesuksesan karir. Faktanya, generasi milenial yang berencana tetap bekerja bersama perusahaan selama lebih dari lima tahun, memiliki kemungkinan dua kali lebih besar memiliki mentor daripada tidak, menurut Deloitte. Sistem manajemen pembelajaran yang tepat dapat memfasilitasi mentoring dengan menghubungkan karyawan dengan mentor sehingga mereka dapat dengan mudah menjawab pertanyaan, memberikan saran dan mengatasi masalah secara produktif. Pekerja modern juga ingin berpartisipasi dalam mentoring peer-to-peer. Memperbolehkan karyawan untuk berbagi keterampilan dan pengetahuan dengan teman sebayanya tidak hanya membantu membangun hubungan kerja yang kuat, tapi juga bisa menjadi sumber berharga dari konten yang dihasilkan oleh karyawan seperti video pendek, posting blog atau diskusi forum.

  4. Masukan Konsisten dan Konstruktif
    Ulasan tahunan tidak lagi cukup untuk pekerja modern. Karyawan saat ini mencari lebih banyak feedback, lebih sering. Hal ini sejalan dengan keinginan mereka untuk mendapatkan bimbingan dan kesempatan belajar yang dipersonalisasi.Ditambah, mengatur forum diskusi online atau chatting dapat memfasilitasi percakapan feedback produktif dan informal. Misalnya, jika seorang karyawan mengajukan pertanyaan di forum kelompok yang dapat dijawab oleh seorang rekan senior, karyawan tersebut dapat dengan cepat mendapatkan informasi yang dibutuhkan dan kembali bekerja. Feedback personalisasi semacam ini mendorong budaya pembangunan berkelanjutan, dimana karyawan dapat menggunakan feedback untuk tetap fokus pada tugas sehari-hari mereka dan juga pada tujuan jangka panjang.

  5. Melibatkan Lingkungan
    Sebagian besar keterlibatan pelajar modern beralih ke fleksibilitas, variasi dan ketersediaan teknologi. Lebih dari 90 persen Gen Z mengatakan kecanggihan teknologi akan mempengaruhi minat mereka untuk bekerja di perusahaan, sehingga memanfaatkan alat pembelajaran online sangat penting untuk menarik generasi ini. Teknologi digital memudahkan untuk membuat dan mengakses konten seperti e-book, video, blog atau podcast untuk pendekatan pengajaran baru seperti microlearning yang sangat terfokus. Dan strategi yang memanfaatkan teknologi pembelajaran terbaru telah terbukti bisa menghasilkan 50 persen keterlibatan lebih tinggi.Pendekatan akomodatif terhadap pembelajaran ini memungkinkan karyawan mendapatkan jawaban berdasarkan permintaan, mendorong pengambilan keputusan yang independen dan memberi peserta didik fleksibilitas dan kedekatan yang mereka inginkan. Pekerja modern tentu memiliki beberapa harapan baru untuk belajar di tempat kerja, harapan ini membantu organisasi menciptakan program pengembangan pembelajaran yang memungkinkan mobilitas bakat, membangun budaya belajar dan mengembangkan pemimpin masa depan.

Sumber: https://www.cornerstoneondemand.com/rework/5-things-modern-worker-looks-talent-development

Contributor: Verdy Herdiansyah

4DX

Kata 4DX mungkin sudah tidak asing di telinga jika kita termasuk golongan movie lovers yang sering banget nonton di bioskop kenamaan, CGV Blitz. 4DX sendiri merupakaan salah satu auditorium yang menawarkan teknologi yang memungkinkan penonton seolah berada di dalam sebuah film yang sedang ditonton. Dengan adanya sensor tambahan membuat adegan film seolah riil dialami oleh penonton. Sama dengannya dengan film yang menjadi seolah nyata oleh 4DX, tentunya semua perusahaan akan maju jika visi misinya bisa terealisasi menjadi kenyataan. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, apa yang harus dilakukan perusahan untuk menambahkan “sensor” mereka agar visi misi bisa terealisasi? Salah satunya adalah dengan menggunakan 4DX, Maksudnya teknologi 4DX? Bukan! Kali ini adalah 4DX versi dunia bisnis.
4DX versi dunia bisnis merupakan kepanjangan dari 4 Disciplines of Execution. Inti dari konsep ini merupakan serangkaian disiplin yang harus dipraktikan untuk mengeksekusi sebuah objektif. Dengan memahami 4DX diharapkan proses eksekusi menjadi terarah dan terukur. Keempat disiplin yang menjadi fokus adalah:

  1. Fokus pada Wildly Important Gol
    “Focus on less in order to accomplish more” moto inilah yang ingin ditekankan pada disiplin pertama. Kebanyakan organisasi (atau individu) fokus pada banyak gol untuk dicapai, hal ini malah akan membuat eksekusi menjadi kurang fokus dan terarah. Pilihlah gol yang penting dan menjadi keharusan bagi organisasi untuk mencapainya. Jika gol ini tidak tercapai, maka akan menghambat pencapaian-pencapaian lain di organisasi, gol seperti inilah yang disebut Wildly Important Gol (WIG). 2-3 WIG merupakan jumlah yang efektif untuk dicapai oleh tim secara luar biasa. Setelah WIG ditentukan, maka tentukanlah Lag Measures, yang merupakan sebuah ukuran yang menandakan WIG tercapai atau tidak. Contoh Lag Measures yang baik adalah menggunakan formula Dari X ke Y dalam jangka waktu….
    Contoh: Meningkatkan penjualan dari 5000 ke 7000 per Agustus 2018.

  2. Sumber daya untuk eksekusi difokuskan berdasarkan lead measure
    Lead measure merupakan ukuran yang diterapkan pada aktivitas-aktivitas yang jika dilakukan diprediksi dapat mengarah pada pencapaian lag measures. Lead measures lebih gampang dikontrol saat eksekusi (dalam kendali tim) dan sifatnya lebih operasional. Contoh lead measures jika dihubungkan dengan contoh lag measures pada disiplin 1 adalah Melakukan follow up pada customer existing seminggu 10 kali.
    Pada contoh di atas, dengan melakukan follow up kepada customer existing, diharapkan dapat mempengaruhi pencapaian penjualan (lag measures). Setelah menentukan lead measures, usaha-usaha dan sumber daya organisasi hendaknya diarahkan untuk pencapaian lead measurmes tersebut.

  3. Membuat score board yang memotivasi
    Bayangkan pemain sepak bola ketika mencetak gol, tidak dicatat hasilnya di scoreboard, permainan menjadi sangat membosankan dan kurang kompetitif. Mungkin bandar judi bola banyak yang gulung tikar juga ya…
    Sama halnya dengan pelaksanaan eksekusi, jika tidak ada scoreboard untuk mencatat kinerja pencapaian, maka motivasi pada karyawan akan menurun karena mereka tidak mengetahui posisi mereka dalam usaha pencapaian gol tersebut. Buatlah scoreboard yang menarik sehingga setiap orang di organisasi tahu posisinya apakah kinerjanya sudah baik atau perlu diperbaiki demi mencapai lead dan lag measures.

  4. Menciptakan irama akuntabilitas
    Akuntabilitas dalam prinsip 4DX diartikan sebagai komitmen individu dan tim untuk meningkatkan skor (pencapaian) secara disiplin dan terukur. Pertanyaan yang harus diajukan tiap minggu oleh unit kerja adalah “Hal penting apakah yang harus saya lakukan minggu ini untuk mendorong pencapaian hasil?”. Irama akuntabilitas juga bisa tercipta dengan melakukan WIG Session dimana kinerja mingguan setiap unit kerja dipertanggung jawabkan dan membuat rencana untuk menggerakan skor di minggu itu. Hal yang dilakukan pada WIG session antara lain:
    a. Account – Melaporkan komitmen minggu lalu, apa yang sudah dilakukan di minggu lalu
    b. Review The Scoreboard – Mengkaji ulang score board tim dan mempelajari apa yang bisa diperbaiki dari kegagalan dan apa yang bisa ditingkatkan agar menang lebih besar.
    c. Plan – Membuat komitmen baru untuk meningkatkan skor di minggu depan. 

Itulah 4 disiplin yang sebaiknya digunakan dalam mengeksekusi suatu program di dalam organisasi. Dengan menggunakan prinsip 4DX, organisasi menyelaraskan antara gol yang ingin dicapai dan alokasi sumber daya untuk mencapai gol tersebut. Pada tulisan berikutnya, akan lebih menarik jika kitamembahas lebih detil masing-masing disiplin dari 4DX ini agar kita mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif.

Sumber: McChesney, C., Covey, S., & Huling, J. (2012). 4 The Disciplines of Execution. London: Simon & Schuster.

Contributor: Hans Christians