5 THINGS THE MODERN WORKER LOOKS FOR IN TALENT DEVELOPMENT

Gelombang baru karyawan membentuk kembali angkatan kerja saat ini. Generasi Z (Gen Z) memulai karir mereka, dan generasai milenial sekarang membentuk lebih dari sepertiga pekerja di Amerika Serikat – mayoritas yang diperkirakan akan meningkat menjadi 75 persen pada tahun 2025. Hal ini berarti, bahwa prioritas dan harapan di tempat kerja bergeser seiring generasi yang lebih tua menjadi minoritas. Pada bidang pembelajaran dan pengembangan, generasi yang lebih muda memiliki pandangan dan prioritas yang berbeda daripada mereka yang telah datang sebelum mereka (generasi milenial). Dengan internet, Gen Z dan milenial telah beradaptasi/beradaptasi dengan kemampuan untuk belajar secara mudah, jadi tidak mengherankan jika pembelajaran on-demand juga menjadi prioritas bagi mereka di tempat kerja.

Sayangnya, banyak dari pekerja modern tidak merasa organisasinya mencapai standar – 42 persen dari generasi milenial mengatakan bahwa mereka cenderung meninggalkan perusahaan dikarenakan mereka tidak belajar cukup cepat. Inilah lima hal penting yang dicari oleh pekerja modern ketika menyangkut peluang pengembangan bakat – serta tips untuk menarik dan mempertahankan bakat yang diinginkan.

  1. Peluang Pengembangan Kepemimpinan
    Pengembangan kepemimpinan sangat penting bagi pekerja generasi milenial maupun generasi Z. Gallup poll (Penilaian publik) baru-baru ini menemukan bahwa 87 persen generasi milenial mengatakan pengembangan lapangan merupakan kunci. Dan 36 persen dari populasi milenial dan Gen Z memberi peluang pada perkembangan sebagai aspek terpenting dalam pekerjaan profesional pertama, menurut sebuah survei dari Adecco.Karena para pekerja ini sangat ingin mengambil peran kepemimpinan, organisasi perlu memberikan kesempatan untuk gerakan karir bersama dengan jalur pertumbuhan yang ditetapkan yang dapat diikuti oleh karyawan. Sistem manajemen kinerja yang memungkinkan karyawan berpartisipasi dalam program pembangunan, bekerja dengan manajer untuk menetapkan dan memantau sasaran, dan mencatat keterampilan yang didapat akan sangat penting untuk mempertahankan bakat di masa depan.

  2. Pembelajaran yang Dipersonalisasi
    Generasi milenial tidak terlalu setia kepada atasan mereka. Pada akhir 2020, dua dari setiap tiga generasi milenial diperkirakan akan beralih ke pekerjaan baru, 2016 Millenial Survey menurut Deloitte – namun ada sesuatu yang dapat dilakukan oleh atasan untuk mencegah hal tersebut. Generasi Milenial menempatkan nilai fleksibilitas yang tinggi, dan ingin memiliki kendali atas pengalaman belajar dan jalur karir mereka sendiri. Membiarkan karyawan menetapkan tujuan pembelajaran individual dan memberi mereka alat untuk mengejar kemajuan karir internal memperkuat perasaan berharga dan hormat, dan dapat membantu menjembatani kesenjangan loyalitas. Dan teknologi dapat membantu: Sistem manajemen pembelajaran memungkinkan pekerja untuk dengan mudah melacak kemajuan dan pencapaian. 

  3. Mentoring Yang Sedang Berlangsung
    Mentoring di di tempat kerja merupakan prioritas besar bagi pekerja modern-79 persen generasi milenial menganggap hal ini penting untuk kesuksesan karir. Faktanya, generasi milenial yang berencana tetap bekerja bersama perusahaan selama lebih dari lima tahun, memiliki kemungkinan dua kali lebih besar memiliki mentor daripada tidak, menurut Deloitte. Sistem manajemen pembelajaran yang tepat dapat memfasilitasi mentoring dengan menghubungkan karyawan dengan mentor sehingga mereka dapat dengan mudah menjawab pertanyaan, memberikan saran dan mengatasi masalah secara produktif. Pekerja modern juga ingin berpartisipasi dalam mentoring peer-to-peer. Memperbolehkan karyawan untuk berbagi keterampilan dan pengetahuan dengan teman sebayanya tidak hanya membantu membangun hubungan kerja yang kuat, tapi juga bisa menjadi sumber berharga dari konten yang dihasilkan oleh karyawan seperti video pendek, posting blog atau diskusi forum.

  4. Masukan Konsisten dan Konstruktif
    Ulasan tahunan tidak lagi cukup untuk pekerja modern. Karyawan saat ini mencari lebih banyak feedback, lebih sering. Hal ini sejalan dengan keinginan mereka untuk mendapatkan bimbingan dan kesempatan belajar yang dipersonalisasi.Ditambah, mengatur forum diskusi online atau chatting dapat memfasilitasi percakapan feedback produktif dan informal. Misalnya, jika seorang karyawan mengajukan pertanyaan di forum kelompok yang dapat dijawab oleh seorang rekan senior, karyawan tersebut dapat dengan cepat mendapatkan informasi yang dibutuhkan dan kembali bekerja. Feedback personalisasi semacam ini mendorong budaya pembangunan berkelanjutan, dimana karyawan dapat menggunakan feedback untuk tetap fokus pada tugas sehari-hari mereka dan juga pada tujuan jangka panjang.

  5. Melibatkan Lingkungan
    Sebagian besar keterlibatan pelajar modern beralih ke fleksibilitas, variasi dan ketersediaan teknologi. Lebih dari 90 persen Gen Z mengatakan kecanggihan teknologi akan mempengaruhi minat mereka untuk bekerja di perusahaan, sehingga memanfaatkan alat pembelajaran online sangat penting untuk menarik generasi ini. Teknologi digital memudahkan untuk membuat dan mengakses konten seperti e-book, video, blog atau podcast untuk pendekatan pengajaran baru seperti microlearning yang sangat terfokus. Dan strategi yang memanfaatkan teknologi pembelajaran terbaru telah terbukti bisa menghasilkan 50 persen keterlibatan lebih tinggi.Pendekatan akomodatif terhadap pembelajaran ini memungkinkan karyawan mendapatkan jawaban berdasarkan permintaan, mendorong pengambilan keputusan yang independen dan memberi peserta didik fleksibilitas dan kedekatan yang mereka inginkan. Pekerja modern tentu memiliki beberapa harapan baru untuk belajar di tempat kerja, harapan ini membantu organisasi menciptakan program pengembangan pembelajaran yang memungkinkan mobilitas bakat, membangun budaya belajar dan mengembangkan pemimpin masa depan.

Sumber: https://www.cornerstoneondemand.com/rework/5-things-modern-worker-looks-talent-development

Contributor: Verdy Herdiansyah