4DX

Kata 4DX mungkin sudah tidak asing di telinga jika kita termasuk golongan movie lovers yang sering banget nonton di bioskop kenamaan, CGV Blitz. 4DX sendiri merupakaan salah satu auditorium yang menawarkan teknologi yang memungkinkan penonton seolah berada di dalam sebuah film yang sedang ditonton. Dengan adanya sensor tambahan membuat adegan film seolah riil dialami oleh penonton. Sama dengannya dengan film yang menjadi seolah nyata oleh 4DX, tentunya semua perusahaan akan maju jika visi misinya bisa terealisasi menjadi kenyataan. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, apa yang harus dilakukan perusahan untuk menambahkan “sensor” mereka agar visi misi bisa terealisasi? Salah satunya adalah dengan menggunakan 4DX, Maksudnya teknologi 4DX? Bukan! Kali ini adalah 4DX versi dunia bisnis.
4DX versi dunia bisnis merupakan kepanjangan dari 4 Disciplines of Execution. Inti dari konsep ini merupakan serangkaian disiplin yang harus dipraktikan untuk mengeksekusi sebuah objektif. Dengan memahami 4DX diharapkan proses eksekusi menjadi terarah dan terukur. Keempat disiplin yang menjadi fokus adalah:

  1. Fokus pada Wildly Important Gol
    “Focus on less in order to accomplish more” moto inilah yang ingin ditekankan pada disiplin pertama. Kebanyakan organisasi (atau individu) fokus pada banyak gol untuk dicapai, hal ini malah akan membuat eksekusi menjadi kurang fokus dan terarah. Pilihlah gol yang penting dan menjadi keharusan bagi organisasi untuk mencapainya. Jika gol ini tidak tercapai, maka akan menghambat pencapaian-pencapaian lain di organisasi, gol seperti inilah yang disebut Wildly Important Gol (WIG). 2-3 WIG merupakan jumlah yang efektif untuk dicapai oleh tim secara luar biasa. Setelah WIG ditentukan, maka tentukanlah Lag Measures, yang merupakan sebuah ukuran yang menandakan WIG tercapai atau tidak. Contoh Lag Measures yang baik adalah menggunakan formula Dari X ke Y dalam jangka waktu….
    Contoh: Meningkatkan penjualan dari 5000 ke 7000 per Agustus 2018.

  2. Sumber daya untuk eksekusi difokuskan berdasarkan lead measure
    Lead measure merupakan ukuran yang diterapkan pada aktivitas-aktivitas yang jika dilakukan diprediksi dapat mengarah pada pencapaian lag measures. Lead measures lebih gampang dikontrol saat eksekusi (dalam kendali tim) dan sifatnya lebih operasional. Contoh lead measures jika dihubungkan dengan contoh lag measures pada disiplin 1 adalah Melakukan follow up pada customer existing seminggu 10 kali.
    Pada contoh di atas, dengan melakukan follow up kepada customer existing, diharapkan dapat mempengaruhi pencapaian penjualan (lag measures). Setelah menentukan lead measures, usaha-usaha dan sumber daya organisasi hendaknya diarahkan untuk pencapaian lead measurmes tersebut.

  3. Membuat score board yang memotivasi
    Bayangkan pemain sepak bola ketika mencetak gol, tidak dicatat hasilnya di scoreboard, permainan menjadi sangat membosankan dan kurang kompetitif. Mungkin bandar judi bola banyak yang gulung tikar juga ya…
    Sama halnya dengan pelaksanaan eksekusi, jika tidak ada scoreboard untuk mencatat kinerja pencapaian, maka motivasi pada karyawan akan menurun karena mereka tidak mengetahui posisi mereka dalam usaha pencapaian gol tersebut. Buatlah scoreboard yang menarik sehingga setiap orang di organisasi tahu posisinya apakah kinerjanya sudah baik atau perlu diperbaiki demi mencapai lead dan lag measures.

  4. Menciptakan irama akuntabilitas
    Akuntabilitas dalam prinsip 4DX diartikan sebagai komitmen individu dan tim untuk meningkatkan skor (pencapaian) secara disiplin dan terukur. Pertanyaan yang harus diajukan tiap minggu oleh unit kerja adalah “Hal penting apakah yang harus saya lakukan minggu ini untuk mendorong pencapaian hasil?”. Irama akuntabilitas juga bisa tercipta dengan melakukan WIG Session dimana kinerja mingguan setiap unit kerja dipertanggung jawabkan dan membuat rencana untuk menggerakan skor di minggu itu. Hal yang dilakukan pada WIG session antara lain:
    a. Account – Melaporkan komitmen minggu lalu, apa yang sudah dilakukan di minggu lalu
    b. Review The Scoreboard – Mengkaji ulang score board tim dan mempelajari apa yang bisa diperbaiki dari kegagalan dan apa yang bisa ditingkatkan agar menang lebih besar.
    c. Plan – Membuat komitmen baru untuk meningkatkan skor di minggu depan. 

Itulah 4 disiplin yang sebaiknya digunakan dalam mengeksekusi suatu program di dalam organisasi. Dengan menggunakan prinsip 4DX, organisasi menyelaraskan antara gol yang ingin dicapai dan alokasi sumber daya untuk mencapai gol tersebut. Pada tulisan berikutnya, akan lebih menarik jika kitamembahas lebih detil masing-masing disiplin dari 4DX ini agar kita mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif.

Sumber: McChesney, C., Covey, S., & Huling, J. (2012). 4 The Disciplines of Execution. London: Simon & Schuster.

Contributor: Hans Christians

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *